Langsung ke konten utama

Teruntuk Si Baik Hati


__________


tiada kata yang dapat ku ucap
saat kau pergi
ku hanya diam menatap langkahmu
meninggalkan kita

walau berat di hati tak apa
karena ku tahu
pasti ada tantangan yang berat
di setiap perjalanan yang hebat

takkan berakhir di sini
semuanya akan jadi lebih baik

walau kita tidak lagi berlari bersama lagi
tetapi doaku ini selalu untukmu
sampai suatu hari nanti kita kan bersama lagi
berbagi cerita terbaik dari hidup ini
(CJR - Lebih baik)
__________
Teruntuk Si Baik Hati
Rasanya pepatah ini benar, Seseorang akan terasa begitu berharga ketika ia pergi. Mungkin memang benar begitu adanya. Baru beberapa jam yang lalu temanku, sebut saja Si Baik Hati ini pulang ke kampung halamannya di Curup meninggalkan Jogja yang pernah amat menyanjungnya. 
Si Baik Hati adalah teman pertamaku di fakultas, entahlah darimana kisah kami berdua berawal. Oh iya aku ingat, aku duluan yang mendekatinya, sksd lebih jelasnya. Berawal dari janjian untuk berangkat bersama mengikuti masa orientasi fakultas, yang aku ingat betul, berangkat ketika udara masih dingin, matahari masih bersiap-siap untuk menyinari bumi seharian, aku berjalan dari kosku menuju kos nya (si Baik Hati). Setelah saat itu kami sering berangkat bersama. Maba memang rajin ya? jika kelas dimulai pukul 7, aku dan si Baik hati sudah nongkrong di depan kampus untuk sarapan dengan bubur ayam. 
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dengan cepatnya. Tak terasa, 4 tahun sudah aku mengenal juga berteman baik dengan si Baik Hati. Dan tepat hari ini aku melepasnya pulang ke kampung halaman, walau tak sempat bersua tapi yakinlah aku selalu meminta untuk segera dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik tentunya. Dia tak akan bisa kulupa.
Sedih itu pasti, bahkan aku rasanya ingin menangis ketika ditanya apakah kau tidak merasa kehilangan Si Baik Hati? Justru karena merasa sangat kehilangan aku tak dapat berekspresi, aku bingung, mungkin perasaan sepi bukan dirasakan hari ini, tetapi hari-hari selanjutnya. Sejujurnya aku tak dapat membayangkan bagaimana aku tanpanya. Aku amat bersyukur bisa mengenalnya, aku tak bisa berkata banyak karena memang tak ada kata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaanku padanya. Dulu, kemarin, saat ini, ataupun yang akan datang, insya Allah aku akan selalu menyanginya dan menerbangkan doa untuknya. 
_________
notes :
aku yakin kamu membaca ini wahai Si Baik Hati! aku ingin menyampaikan beribu terimakasih sudah mewarnai hari-hariku selama empat tahun ini. Mungkin menginap di kamarmu, atau di Sunflower akan menjadi kenangan yang indah untukku. Terimakasih banyak atas semuanya. Sukses terus, jaga kesehatan, jangan banyak menangis karena rindu. Rindu itu berat kata Dilan, biar dia saja, kamu tidak usah. Semoga selalu di lindungi Allah, jangan lupa doakan aku juga yaa..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIMUR DAN LAHIRNYA MPRET

Timur adalah orang yang menginspirasi gue untuk membuat sebuah tulisan yang ditujukan kepada anak, karena menurutnya kita juga akan jadi orangtua, dan bagi orangtua nggak ada yang lebih berharga daripada anaknya. Makanya akhirnya gue mempersembahkan semua tulisan berikut termasuk yang alay buat anak gue.  Mpret, panggilan kesayangan gue kepada anak-anak gue yang nantinya baca tulisan gue ini.  Kalo gue masih hidup pas lo baca ini jangan ngecengin gue kalo suatu saat lo nemuin blog ini, karena gue gengsi banget, dan mungkin beberapa tulisan disini bikin gue malu. Tapi karena blog ini salah satu hal yang nemenin gue, jadi dia berharga dan gue pertahankan sampai sekarang. Lewat semua tulisan disini gue mau lo tau kalo ibu lo ini ngga sempurna, ibu lo punya salah, ibu lo pernah alay, ibu lo memalukan, ibu lo bucin, ibu lo pernah bego, tapi ibu lo belajar dari semua itu dan nggak menyerah buat jadi pribadi yang lebih baik.  Tujuan lain gue nulis disini karena gue mau lo ngeras...

Cadar

Apa yang kamu pikirkan ketika kamu mendengar kata cadar? Teroris? Isis? Islam sesat? Islam garis keras? Peculik? Cuci otak? Tidak ramah? Ribet? Mengapa semuanya berbau negatif ya? Suudzon-kah namanya? Oke aku tak akan membahas tentang suudzon. Aku ingin memberi sedikit bocoran tentang apa yang aku pikirkan ketika aku mendengar kata “cadar”. Awal mulanya, aku berfikir demikian juga, sama seperti kebanyakan orang. Aku berfikir bahwa mereka yg bercadar adalah orang Islam yg suka menculik, orang Islam yg berada dalam garis keras, suka mencuci otak oranglain. Setelah ku pikir sekarang, aku seperti itu karena aku tidak mengenal betul apa itu cadar dan mengapa sebagian orang memakainya. Dan aku tak terbiasa melihat orang bercadar. Mengapa tak terbiasa? Mulai dari kecil aku hanya melihat orang-orang tak berjilbab, memakai rok pendek, celana pendek, namun masih dalam batas wajar. Suatu ketika aku melihat berita di tv mengenai teroris, kemudian beberapa ...

Karenamu

Bukan karena dia atau mereka, ini tentang kamu.  Yang menghabisi diri sendiri dengan ketidakpercayaan.  Teruslah begitu, bila ingin begitu.  Sadarlah! Itu sangat menyakitkan! Semua yg direncanakan gagal dilakukan, Semua yg sudah dipersiapkan justru dihancurkan diri sendiri dan pasrah terhadap semesta. Goodjob!