Langsung ke konten utama

Cadar

Apa yang kamu pikirkan ketika kamu mendengar kata cadar?
Teroris?
Isis?
Islam sesat?
Islam garis keras?
Peculik?
Cuci otak?
Tidak ramah?
Ribet?
Mengapa semuanya berbau negatif ya? Suudzon-kah namanya?
Oke aku tak akan membahas tentang suudzon.

Aku ingin memberi sedikit bocoran tentang apa yang aku pikirkan ketika aku mendengar kata “cadar”.
Awal mulanya, aku berfikir demikian juga, sama seperti kebanyakan orang. Aku berfikir bahwa mereka yg bercadar adalah orang Islam yg suka menculik, orang Islam yg berada dalam garis keras, suka mencuci otak oranglain.

Setelah ku pikir sekarang, aku seperti itu karena aku tidak mengenal betul apa itu cadar dan mengapa sebagian orang memakainya. Dan aku tak terbiasa melihat orang bercadar.
Mengapa tak terbiasa? Mulai dari kecil aku hanya melihat orang-orang tak berjilbab, memakai rok pendek, celana pendek, namun masih dalam batas wajar. Suatu ketika aku melihat berita di tv mengenai teroris, kemudian beberapa tahun kemudian ISIS, lalu pencucian otak yang mana selalu disangkut pautkan dengan orang bercadar.
Mungkin benar kata orang, kesan pertama adalah segalanya. Dan itu berlaku padaku kala itu.

Ketika aku tepatnya duduk di bangku kelas 2 MAN(sekolah yang entah mengapa aku dapat masuk ke dalamnya). Kala itu ku ingat, aku tengah duduk sendiri di masjid. Kemudian datang 2-3 orang yang mengenakan cadar. Akupun berpura-pura sibuk dengan buku yang kubaca sesekali melirik kearahnya. Aku penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Apakah mereka memasangkan bom atau berniat jahat di masjid kala itu. Bila benar aku harus segera lari.
Namun yang kutemukan saat itu hanyalah pemandangan mereka memakai bawahan mukena dan sholat.
Benar-benar tak sesuai dengan pemikiran.
Aku tetap mencuri pandang ke arah mereka, aku penasaran. Mengapa mereka menggunakan cadar? Apakah tidak panas menggunakan cadar dengan baju yang bisa dibilang “masya Allah besarnya”? Apakah mereka dapat bernafas menggunakan cadar? Bagaimana cara mereka makan?
Ya, hanya pertanyaan seputar itulah yang kala itu ingin ku tanyakan.

Ketika aku kuliah, tepatnya Ramadhan 1438 H. Singkat cerita, setelah berputar-putar mencari barang di mall kemudian berbuka puasa di suatu rumah makan. Aku dan temanku mencari masjid untuk sholat maghrib dan tarawih. Akupun mengusulkan salah satu masjid di daerah Yogyakarta yang menurutku memiliki kamar mandi yang bersih (aku teringat kalimat “kualitas seseorang dapat dilihat dari kamarmandinya”).
Ketika aku melihat sekitarnya memang bersih, kemudian melihat orang orang yg ada di dalamnya aku hanya mangut-mangut kemudian bergegas sholat maghrib. Selesai sholat aku melihat sekitar, nampak banyak sekali orang yang berkerudung panjang. Terasa nyaman dipandang, intinya aku merasa nyaman dimasjid itu.
Singkat cerita (lagi) aku dan temanku melanjutkan sholat isya disana. Sebelum takbiratul ihram, aku sempat memperhatikan bahwa yang di depanku adalah seorang wanita bercadar. Muncullah pertanyaan usil dalam benakku “Bagaimana ya, muka kakak itu? Apakah seperti parodi ayat ayat cinta? Ataukah mukanya banyak jerawat maka ia mengenakan cadar? atau ia memilik sariawan yang teramat besar?”. Selesai sholat aku melihatnya sekilas kemudian berfikir “Ternyata tak seburuk dugaanku, wajahnya biasa. Hanya saja akan ada perasaan adem ketika melihatnya”
Sungguh tak kusadari bila ternyata orang yang sholat di samping kananku adalah seorang wanita bercadar pula. Kuberanikan diri untuk melihatnya kemudian bertanya perihal cadar, “Kak, bagaimana rasanya ketika memakai cadar? Apakah kakak bisa bernafas dengan normal?” Saat ini aku hanya tersenyum mengingat kepolosanku saat menanyakan hal itu. Tentulah ia bisa bernafas dengan normal. Kalau tidak, matilah mereka. Hahaha. Ya, sang kakak berkata bahwa ia senang mengenakan cadar, ia merasa nyaman memakai cadar. Walau pada awal mulanya orang memperhatikannya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti melihat benda asing yang aneh. Aku hanya mengangguk-angguk paham, dalam hati membenarkan seperti yang kulakukan dua tahun silam, ketika melihat 2-3 orang bercadar yang sholat di sekolahku.Aku memperhatikannya dari ujung sampai ke ujung.

Masya Allah terlalu bertele-tele. akupun capek menulisnya, hahaha.
Oke, lanjut.

Ketika liburan kenaikan semester 3, Allah memberikanku kesempatan mengenal perempuan-perempuan bercadar lebih dekat. Ku ingat pertama kali aku melihat wanita bercadar yakni di hari kedua aku berada di villa, *anak hits mah mainnya ke villa :3* aku yang kala itu sedang khusyu bercerita kemudian melihat seorang wanita bercadar masuk ditemani ibunya. Kau tahu apa yang ku gumamkan dalam hati?
MasyaAllah, tak salah bila ia memilih untuk bercadar. Mengapa aku mengatakan demikian? padahal belum ku lihat ia melepas cadarnya. Entah apa yang ada dalam otakku, namun aku dan dua temanku yang lain meyakini bahwa ia memiliki paras yang Insya Allah cantik, terbukti dari matanya. Apakah aku lebay kali ini dalam menceritakannya? ah sudahlah terima saja dan bacalah. Aku tak melebih-lebihkan, namun benar aku dan dua temanku merasakan adem ketika melihat matanya. Dan benar saja ketika untuk pertama kali ia melepas cadar, aku hanya memalingkan muka seraya berkata untunglah aku masih suka lawan jenis. hahaha
Kemudian pada suatu hari aku sempat bertanya alasan ia memakai cadar? ia hanya menjawab karena ada sebuah kejadian yang membuatnya memakai cadar, yang intinya karena ia sering diganggu ikhwan soleh. Jelaslah mereka mengganggunya, siapa orang yang tidak mau mendekati Akhwat cantik sepertinya?
ah malah jadi bahas si masya Allah cantik. *ngomong-ngomong ia selalu memarahiku karena tidak menyandarkan pujian kepada Allah. jadi ya begitulah*

Intinya mereka yang memakai cadar bukanlah teroris, penculik, anggota ISIS atau aliran sesat yang akan mencuci otakmu, mereka hanyalah wanita yang ingin menjaga dirinya. Menjaga diri dari pandangan-pandangan kagum orang-orang tak bertanggungjawab. Menjaga diri sendiri dan yang terpenting membantu oranglain menjaga dirinya sendiri. Seorang teman yang bercadar pernah mengatakan alasan ia memakai cadar adalah karena ia takut menjadi pencuri keimanan seseorang, menjadi penggoda secara tidak langsung, menjadi fitnah bagi seseorang juga dan ia takut menimbulkan ketidak-amanan atau kenyamanan dalam berteman. Yang mana membuatku merasa tertohok. Yah begitulah.
Mereka juga bukanlah orang-orang yang berbahaya, percayalah padaku. Aku saja yang dulu lari ketika melihatnya malah menjadi seseorang yang memberitahu mereka bila ada Ikhwan soleh yang datang. Mereka  juga baik hati, suka menolong, dan yang pasti agamis. *namun, bila kau temukan yang belum agamis, jangan menghujatnya, ia sedang berproses, hargai sebuah proses, hargai hijrah seseorang. waw waw waw mengapa kata kataku seperti menghakimi -____-* Dan yang pasti kau dapat belajar dari mereka, belajar bagaimana mempertahankan sesuatu yang memang harus di pertahankan, bagaimana menjaga diri, dll.
Hmm dua kali aku sempat mencobanya, lengkap dengan pakaiannya yang kurasa kebesaran dibadanku kemudian, aku merasakan bagaimana nikmatnya memakai cadar. Aku mengetahui alasan mengapa mereka mengenakan dan mempertahankan cadarnya. Lain kali kau harus mencobanya sendiri :)

Oiya, sekarang cadar bukan lah sesuatu yang asing, sekarang banyak orang yang memakai cadar namun tetap dapat mengikuti tren. Malaysia salah satu contohnya, dapat kita temukan banyak orang yang memakai cadar dan mereka memiliki gaya yang tak kalah dengan mereka-mereka yang tak mengenakannya, namun tetap syari pastinya.

ah sudahlah. ternyata sudah larut, selamat malam :)

Komentar

  1. MasyaAllah, rupanya Allah tak salah menggerakkan jariku untuk membuka blogmu pagi ini, jen. Karena aku mendapat pelajaran lewat tulisan ini :) makasih sayangkuuuu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIMUR DAN LAHIRNYA MPRET

Timur adalah orang yang menginspirasi gue untuk membuat sebuah tulisan yang ditujukan kepada anak, karena menurutnya kita juga akan jadi orangtua, dan bagi orangtua nggak ada yang lebih berharga daripada anaknya. Makanya akhirnya gue mempersembahkan semua tulisan berikut termasuk yang alay buat anak gue.  Mpret, panggilan kesayangan gue kepada anak-anak gue yang nantinya baca tulisan gue ini.  Kalo gue masih hidup pas lo baca ini jangan ngecengin gue kalo suatu saat lo nemuin blog ini, karena gue gengsi banget, dan mungkin beberapa tulisan disini bikin gue malu. Tapi karena blog ini salah satu hal yang nemenin gue, jadi dia berharga dan gue pertahankan sampai sekarang. Lewat semua tulisan disini gue mau lo tau kalo ibu lo ini ngga sempurna, ibu lo punya salah, ibu lo pernah alay, ibu lo memalukan, ibu lo bucin, ibu lo pernah bego, tapi ibu lo belajar dari semua itu dan nggak menyerah buat jadi pribadi yang lebih baik.  Tujuan lain gue nulis disini karena gue mau lo ngeras...

Karenamu

Bukan karena dia atau mereka, ini tentang kamu.  Yang menghabisi diri sendiri dengan ketidakpercayaan.  Teruslah begitu, bila ingin begitu.  Sadarlah! Itu sangat menyakitkan! Semua yg direncanakan gagal dilakukan, Semua yg sudah dipersiapkan justru dihancurkan diri sendiri dan pasrah terhadap semesta. Goodjob!