Apa yang kamu pikirkan ketika
mendengar kata Taha? Kamu mengingat sesuatu? Atau kamu mengingatku?
Taha.
Nama ayah temanku, ya Om Toha. Sekarang beliau adalah
seorang hakim di Wonogiri. Anaknya bernama Johan, temanku dari TK di TKIU Bazra
hingga aku lulus dari SD di SDIT Az-Zahra, Sragen. Dulu kami adalah teman
akrab. Beliau sangat menyayangiku.(ea..) tapi sebenarnya bukan ayah temanku ini
yang aku maksud.
Yang aku maksud adalah Taha, surah ke-20 di Al-Qur’an. Surah
yang aku suka saat ini, eh selama ini ding, mengapa? Aku sendiri tidak tahu apa
alasannya tapi yang jelas aku suka surah itu.
Dari pertama kali aku mendengar surah itu aku sudah
menyukainya.
Karena Umar bin Khattab. Ya, aku suka Umar bin Khattab. seorang khalifah yang mendapat gelar ~singa padang pasir~ (sangar gimana gitu)
Karena Umar bin Khattab. Ya, aku suka Umar bin Khattab. seorang khalifah yang mendapat gelar ~singa padang pasir~ (sangar gimana gitu)
Dan setelah aku masuk sini (read: ICG), aku makin suka.
Apalagi ketika pada suatu malam aku mendengar seseorang membacakan Surah Taha sebelum tidur. Aku senang,
tak tahu senang karena apa. Surahnya atau suara orang yang membacanya. Karena
aku sangat suka surah itu aku sering membacanya, hingga aku hafal beberapa ayat
di awal surah. Mungkin aku akan heboh ketika ada yang menyinggung tentang Surah Taha di kelas, di asrama, di
masjid, di novel atau dimanapun. Ya, mungkin ini terdengar begitu lebay tapi
mau bagaimana lagi.
Lama aku sering mengungkit-ungkit kata Surah Taha, anak-anak di kelas dan di angkatan (khususnya yang
putri) mengetahui bahwa aku menyukai surah ini.
Di suatu maghrib aku mendengar seseorang membaca Surah Taha ketika menjadi imam. Aku
kaget, kesal tapi aku senang dapat mendengar Surah Taha dilantunkan. Walaupun bukan suara seseorang yang
membacanya pertama kali ICG. Tapi aku tetap senang. Jauh dalam lubuk hatiku,
aku selalu berharap seseorang itu akan membaca Surah Taha di suatu event tertentu dimana aku dapat mendengarnya
lagi. Entah ketika menjadi imam atau menjadi suara pengisi mikrofon.
Aku selau berharap. Berharap mendengar Surah Taha dilantunkan dan berharap seseorang itu yang membacanya.
Suara bagus, enak didengar dan asli aku nggak bohong, suaranya menenteramkan
hati.
Suatu malam sebelum tidur aku mendengar ayat pertama Surah Taha dilantunkan, segera aku
berlari keluar kamar berharap seseorang itu yang membacanya. Deng-dong. Salah
besar. Ternyata bukanseseorang itu, tapi teman satu gengnya. Biarlah, aku tetap
setia mendengarkan Surah Taha
dilantunkan.
Aku selau berharap. Berharap mendengar Surah Taha dilantunkan dan berharap seseorang itu yang membacanya.
Suara bagus, enak didengar dan asli aku nggak bohong, suaranya menenteramkan
hati.
Suatu isya’, ketika aku sedang sibuk membereskan pakaianku
yang akan ku pakai nanti sebagai dirigen, adzan isya’ berbunyi. Aku menunggu
seorang temanku yang masih bersiap-siap (Dia Itsnaini Mubarokah) dengan segala
keperluannya sebagai MC di acara malam nanti. Iqamat-pun berbunyi, dan
persiapan hampir selesai. Dan ketika aku mendengar suara imam takbir. Aku
terdiam. Aku hanya berkata “yah”. Ketika sang imam mulai membacakan surah. Aku
kembali terdiam. Segera aku berlari keluar kamar berharap apa yang aku dengar
tidak salah. Iya memang tidak salah. Tanpa aba-aba pandangan mataku mulai
kabur, apa yang aku lihat sudah tak jelas. Tahukah kamu mengapa ini bisa
terjadi? Aku sendiri tak tahu mengapa. Surah
Taha. Mungkin. Atau seseorang yang membacakannya. Ah itu lebay. (tenang
asramaku nggak sampai kebanjiran kok). Suara itu. Rakaat pertama selesai, mulai rakaat
kedua. Aku kembali terdiam tapi tak sampai menitihkan air mata. Karena itu sangat lebay.
Aku senang, walaupun mungkin seseorang itu tidak tahu aku menyukai Surah Taha. Enggak apa-apa, aku enggak akan menuntut ia untuk tahu itu.
Aku senang, walaupun mungkin seseorang itu tidak tahu aku menyukai Surah Taha. Enggak apa-apa, aku enggak akan menuntut ia untuk tahu itu.
~..
Komentar
Posting Komentar